1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Ngeri! Dikeroyok Pemain, Ofisial, dan Suporter Cilegon United, Fisioterapis PSS Sleman Babak Belur




Penulis: admin http://www.tribunnews.com, Publish : Senin, 9 Oktober 2017 07:25 WIB

Capture video saat pemain PSS Sleman dianggap melakukan handsball oleh wasit dalam laga Cilegon United vs PSS Sleman di Stadion Krakatau Steel, Cilegon, Banten, Jumat (6/10/2017).

TRIBUNNEWS.COM – Ulah mengerikan dilakukan oknum pemain, ofisial, dan suporter Cilegon United terhadap ofisial PSS Sleman, Sigit Pramudya.

Insiden yang terjadi di pertandingan Cilegon United melawan PSS Sleman di Stadion Krakatau Steel, Cilegon, Banten, Jumat (6/10/2017) lalu memang luput dari perhatian.

Namun, siapa sangka bila Sigit Pramudya menjadi korban pengeroyokan massa.

Pengeroyokan yang dilakukan pemain, ofisial, dan suporter mengakibatkan Sigit Pramudya nyaris pingsan.

Bagaimana tidak, dia disiksa di sebuah ruangan yang membuatnya babak belur dan hampir tak sadarkan diri.

“Sepak bola identik dengan sportivitas. Sepak bola juga menyatukan dan mempersatukan," kata Rumadi, Direktur Operasional PT Putra Sleman Sembada.

"Tapi, yang terjadi justru pelanggaran sportivitas dan bahkan sudah kriminal karena adanya pengeroyokan,” ujar Rumadi.

Rumadi sampai tak tega melihat kondisi Sigit Pramudya yang terkapar di bus pemain akibat tindakan barbar oknum panpel dan suporter tuan rumah.

Menurut Rumadi, dahinya sobek dan ada luka memar di wajahnya.

Tak hanya itu, sekujur tubuhnya juga menjadi sasaran tendangan banyak orang.

Insiden bermula saat Sigit Pramudya melakukan perawatan pada pemain PSS Sleman, Chandra Waskito yang terjatuh di lapangan.

Usai merawat pemainnya, Sigit Pramudya berjalan melewati gawang tim Cilegon United dan menggoyangkan jaringnya.

Tindakan Sigit Pramudya justru membuat kubu tuan rumah meradang.

Apalagi tim tuan rumah dalam kondisi tertinggal 1-2.

Tak ayal, pemain dan ofisial Cilegon United mengeroyok Sigit Pramudya.

Dia kemudian diamankan oleh panpel.

Tim PSS Sleman pun membiarkan insiden itu.

“Kami mengira diamankan oleh petugas kepolisian. Tapi, dia ternyata dibawa oleh oknum panpel dan dibawa ke sebuah ruangan," kata Rumadi.

"Di situ dia dihajar habis-habisan. Ini sungguh keterlaluan. Saya sampai tak tega melihat kondisinya yang babak-belur. Dia pun menjalani visum et repertum,” tutur Rumadi.

Meski dirugikan dan mendapat teror mental dari tuan rumah, termasuk adanya aksi debus di dekat bench PSS Sleman, namun mereka tidak akan mengajukan protes.

Rumadi menilai protes tidak akan berpengaruh.

“Meski demikian, kami tetap membuat laporan yang disampaikan pada pihak terkait,” ujarnya.

"Termasuk apa yang dialami Sigit. Kondisinya sudah membaik. Tapi dia mengalami trauma psikologis. Peristiwa itu sulit dilupakannya,” pungkas Rumadi. (*)



Baca Juga